Gambar arkib Linda Amri
PERJALANAN KARIER DIPLOMASI DI SABAH
“Sabah ini Seperti Raksasa Sedang Tidur”
SELEPAS bertugas selama empat tahun di Sabah,akhirnya Diplomat Indonesia, Rudhito Widagdo pulang ke Jakarta mulai Oktober ini dengan pelbagai pengalaman dan kenangan manis.`Orang Kampoeng' dari Yogyakarta ini dilahirkan pada 1956, dan merupakan anak ke enam dari sebelaw bersaudara. Sebelum ini beliau menjalankan amanah sebagai Konsul yang menangani masalah hubungan ekonomi antara Sabah dengan Indonesia pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Kinabalu, Malaysia, setelah 25 tahun mengabdi pada Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Rudhito Widagdo, Minister Counsellor, berumah tangga dengan seorang gadis Jogja, Dokter Gigi (Dentist) Dewi WR Widagdo, MHA, dan dikurniakan 2 (dua) anak laki-laki, yaitu Erlangga dan Baskara yang keduanya sedang mengambil pendidikan di Monash University di Kuala Lumpur.
Hobi beliau membaca (semua ilmu) dan komik kartun, berolahraga, serta menyanyi. “Menyanyi merupakan bagian tak tertulis dari berdiplomasi, dan ini harus kita lakukan untuk mendukung kerja kita dalam mempererat hubungan silaturochim. Dengan menyanyi, kita inginkan kesenangan, dicintai dan awet muda“, katanya seraya menambahkan bahwa “cintai dan dicintai adalah bagian dari aliran air yang harus kita ikuti. Itulah hidup agar kita lebih dinamis dan inovatif!“.
Pendidikan Rudhito Widagdo lebih banyak dihabiskan di Jogja, sebagai kota pelajar, dimana beliau lulus dari Fakultas Hukum UGM Jogja tahun 1982. Setelah lontang-lantung beberapa lama, diantaranya ke Madura dan Kalimantan, akhirnya beliau mantap sebagai Pegawai Negeri Sipil, “Saya tidak pernah membayangkan menjadi Diplomat. Mimpi apa itu “diplomat“-pun saya tidak pernah“, kata beliau yang juga alumni Philippines Christian University Filipina itu.
Setelah diterima sebagai pegawai di Departemen Luar Negeri, Rudhito Widagdo mengikuti berbagai pendidikan struktural dan berjenjang serta pendidikan fungsional. Beliau telah mengikuti Sekolah Dinas Luar Negeri (SEKDILU) Angkatan X (1984), SPAMA Angkatan IV (1998), Caraka Madya Angkatan V (2000), dan Sesparlu Angkatan XXX (2004). Beliau juga rajin mengikuti berbagai penataran, seperti Penataran Tingkat Instansi Pusat Tipe A (1986), Penataran Kewaspadaan Nasional Angkatan VII (1993), Penataran P-4 Terpadu (1993), dan Penyegaran/Pembekalan Tingkat Yunior (1994).
Selama bertugas di dalam negeri, beliau lebih banyak menangani masalah kerjasama ekonomi dengan luar negeri. Beliau mempunyai pengalaman menangani masalah hubungan perdagangan internasional dengan negara-negara di Eropa (1985-1988), kerjasama teknik dengan Negara-negara di Eropa (1992-1994), hubungan ekonomi antar negara-negara anggota ASEAN (1998-2000), permasalahan keamanan diplomatik (2005-2006), dan masalah perjanjian internasional (2007).
Selama berkiprah di Deplu, beliau juga mempunyai pengalaman dalam mengikuti berbagai event internasional. Beliau pernah jadi anggota Komisi Bersama (Joint Commission), Loan Negotiations dengan Asian Development Bank (ADB), KTT APEC, ASEAN, OPEC, Tsunami, Asia Afrika, Lake Toba Summit, dan banyak lagi. Beliau juga pernah menjadi Kepala Sekretariat Panitia Pendukung Sidang-Sidang APEC di Filipina dan Kepala Sekretariat Paviliun Indonesia pada Expo Pilipino. Sementara di dalam negeri, beliau pernah ditunjuk sebagai Ketua Posko Kemlu Penanggulangan Bencana Alam di Propinsi Sumut dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Ketua Satgas Pengawasan Orang-Orang Asing di NAD dan Sumut/Intelligent Community, dan Gugus Tugas Kemlu Untuk Penanggulangan Krisis Pasca Gempa Bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Wartawan Utusan Borneo, ABD.NADDIN HJ SHAIDDIN sempat menemuramah Pak Rudy di ruang pejabatnya di KJRI Kota Kinabalu untuk meninjau pendapat dan bertanyakan pengalaman dan kenangan pahit manis sepanjang berada di Sabah.Ikuti sebahagian daripada temubual itu.
UB: Bagaimana bapak melihat Sabah dari segi potensi ekonominya?
RUDY: Dari segi ekonomi, negeri Sabah adalah seperti raksasa yang sedang tidur. Sekarang raksasa itu sedang mulai bangun menggeliat. Kerana apa? Sabah memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Kekayaan sumber alam ini menunjang perkembangan perekonomian di negeri ini. Kekayaan alam ini harus dikelola dengan baik oleh mereka yang benar-benar kompeten dan betul betul faham dan mencintai negeri ini.
Kekayaan alam ini hendaklah diurus oleh kalangan profesional, tidak boleh dicampuri politik.Tidak semestinya ahli politik tidak boleh mengurus ekonomi asalkan ditangani secara profesional. Bagaimana dia tangani sebuah masalah secara profesional.
Gambar arkib Linda Amri
UB: Sepanjang tempoh empat tahun berkhidmat di Sabah, apa kesan pengalaman yang tidak dapat dilupakan?
RUDY: Pada 26 September nanti, genaplah empat tahun saya berkhidmat di Sabah. Saya melihat banyak potensi ekonomi yang boleh dibangunkan di Sabah. Cuma apa yang saya lihat Sabah mempunyai kekurangan dari segi tenaga ahli atau kepakaran.
UB: Kalau menurut pak Rudy, apa sebenarnya penghalang kepada kemajuan kita?
RUDY: Terus terang saja, penghalangnya ialah sikap mudah berpuas hati.Mahunya duduk dikerusi empuk, punya isteri cantik atau kalau sudah makmur, mahu tambah isteri.Ini sikap sebilangan orang kita.Saya tidak bersetuju kalau ada yang mengatakan orang kita malas, hanya saja mereka belum dibimbing dengan baik. Yang penting kita kerja kuat, berbuat baik. Kaya tidak bisa diiukur dengan material. Saya berasa saya kaya. Kerana saya kaya dengan kawan, rakan sahabat, dan kaya hati nurani.
Dipetik dari http://abdnaddin.blogspot.com









0 comments:
Post a Comment